TUGAS JARKOM


MENGENAL FTP

Para pemakai Internet mungkin lebih mengenal yang namanya HTTP atau Hyper-Text Transport Protocol. Jika kita ingin membuka sebuah website tentunya kita akan menggunakan HTTP sebagai protokolnya. Fungsi protokol HTTP ini cukup lengkap, karena protokol ini mampu menampilkan semua unsur multimedia, baik itu berupa teks, gambar, suara maupun video. Sebenarnya, di dunia perinternetan banyak sekali berbagai jenis protokol yang dibuat untuk mengatur berbagai aplikasi Internet. Dewasa ini kita mengenal yang namanya TCP/IP, SMTP, SNMP, POP3 dan terakhir FTP selain HTTP.

Masing-masing protokol mengatur secara khusus aplikasi di dunia perinternetan agar tidak ada perbedaaan atau problem yang dapat mengganggu bagi para pengguna atau netter. Seperti jika kita menggunakan email di Internet, untuk mengirim e-mail kita menggunakan protokol SMTP (Simple Mail Transfer Protocol) dan untuk menerima e-mail dari sumber atau server kita menggunakan protokol POP3 (Post Office Protocol 3). SNMP atau Simple Network Management Protocol adalah protokol yang mengatur dari jaringan-jaringan yang kompleks. Adapun TCP/IP atau transmission control protocol/internet protocol adalah metode jaringan yang digunakan oleh komputer-komputer untuk saling berhubungan satu sama lainnya.

Selain itu dikenal istilah FTP, yang mungkin sedikit asing bagi para pemula pengguna Internet. fungsi FTP lebih banyak dikenal oleh orang-orang yang bekerja didunia website atau pelayanan pengiriman file-file di Internet. Selain tidak dapat menyediakan sebuah layanan yang interaktif seperti yang dilakukan oleh HTTP, FTP hanya sebuah fungsi yang menawarkan fasilitas pertukaran file yang sebenarnya sudah dapat dilakukan oleh HTTP. FTP merupakan aplikasi dari protokol yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu TCP/IP. Selain FTP, protokol lain yang berada di bawah TCP/IP adalah HTTP dan SMTP. FTP adalah protokol yang mengatur proses transfer program atau informasi lainnya dalam bentuk file baik dari server ke client maupun sebaliknya atau dari satu komputer dengan komputer lainnya. Selain menggunakan protokol FTP, proses tersebut tentu harus berhubungan ke internet dengan menggunakan saluran dari sebuah ISP (internet service provider).

Model protokol dan tipe data pada FTP Dalam program FTP sebenarnya terdiri dari empat elemen yang saling mendukung yaitu Client PI (Protocol Interface), Server PI, Client DTP (Data Transfer Process) dan Server DTP. Client PI adalah cara bagi client untuk mencoba berhubungan dengan server yang diinginkannya. Sedangkan Server PI adalah tanggapan dari server setelah ada sebuah request dari client dan elemen ini adalah langkah menuju data transfer process. Adapun client DTP adalah suatu cara client untuk berkomunikasi dengan server DTP dan local file system dan yang terakhir Server DTP adalah suatu cara untuk menerima proses dari client DTP dan remote file system.

Dalam prosesnya, FTP menggunakan dua jenis hubungan dalam proses transfer file atau program. Kedua jenis tersebut adalah:

- Control connection, jenis hubungan ini digunakan antara client-server yang normal. Control connection digunakan oleh client untuk mengirimkan perintah-perintah khusus ke server agar server memberikan respon sesuai dengan yang diinginkan oleh client. Untuk mempertahankan agar hubungan koneksi dari kedua belah pihak berlangsung terusmenerus, sebuah program FTP biasanya akan mengirimkan sejumlah request dengan perintah yang dinamakan REST. Hubungan antara Protocol Interface (client dan server) biasanya dikenal dengan nama control connection.

- Data connection, hubungan ini digunakan ketika file-file ditransfer antara client dan server. Hubungan ini bersifat memaksimalkan ukuran data yang ditransfer. Hubungan antara Data Transfer Process (client dan server) dikenal dengan nama data connection.

Secara umum pekerjaan yang dapat dilakukan oleh program FTP dirangkum dalam tiga bagian, yaitu, login, operasi file dan aktifitas logout. Pada proses login, kita akan menyebutkan nama server yang akan dihubungi disertai dengan username dan password jika dibutuhkan. Setelah proses otentikasi selesai, sesuai dengan otoritas yang diberikan, kita dapat melakukan aktifitas download, delete atau upload sesuai dengan keinginan kita dan batasan yang diberikan oleh server. Setelah selesai, maka kita dapat keluar dan menyelesaikan proses ketiga yaitu logout.

Beberapa software FTP yang dapat digunakan Secara umum software-software FTP yang dapat digunakan terbagi dari dua bagian yaitu graphical-based application dan text-based application. Untuk jenis text-based application kita harus memperhatikan beberapa parameter seperti kontrol format, struktur, dan mode transmisi. Sesuatu hal yang teramat penting yang perlu kita ketahui jika kita menggunakan software FTP yang berbasis text-based adalah memahami perintah-perintah yang sesuai. Tanpa mengerti akan perintah-perintah ini, kita tidak dapat menjalankan program tersebut secara normal. Beberapa perintah-perintah yang sering dipakai seperti USER yang digunakan untuk menyatakan nama user di server, PASS digunakan untuk menginformasikan password, ABOR yang digunakan untuk membatalkan perintah dan transfer, MKD yang digunakan untuk membuat direktori, LIST yang digunakan untuk menyebutkan daftar file atau direktori, RETR yang digunakan untuk mengambil file download, STOR yang digunakan untuk mengirim file atau upload, DELE yang digunakan untuk menghapus file, TYPE yang digunakan untuk menentukan jenis file seperti yang telah diterangkan sebelumnya A jika file tersebut berjenis ASCII dan BIN jika file tersebut berjenis binary dan terakhir QUIT yang digunakan untuk keluar dari server.

Pemahaman atas perintah-perintah diatas sangat penting jika kita menggunakan software-software FTP yang berbasis teks. Namun hal itu tidak diperlukan ketika kita menggunakan graphical-based application. Software-software ini telah mempermudah cara kerja dari tata kerja FTP yang ada. Dengan menggunakan software-software FTP yang berbasis grafik kita hanya perlu memasukkan username dan password sebagai langkah awal. Beberapa contoh dari software-software FTP yang berbasis grafik seperti yang telah disebutkan diatas adalah seperti CuteFTP, SmartFTP, War FTP Daemon dan WS_FTP.

Dengan menggunakan WS_FTP misalnya, kita dapat melakukan operasi pada direktori seperti melihat, membuat, menghapus dan mengubah direktori dan melalukan berbagai operasi seperti memindahkan, menghapus, melihat dan mengubah nama file. Selain itu software FTP ini benarbenar mendukung sistem operasi Windows yang tersedia dalam berbagai edition, kita dapat menggunakan versi limited edition yang disediakan untuk aktifitas pribadi, silakan mendownloadnya di http://www.ipswitch.com/downloads/index.html . Program WS_FTP ini dapat digunakan pada mulai dari Windows 3.1 hingga Windows XP operation system. Beberapa software FTP lainnya seperti CuteFTP dapat didonwload di alamat http://www.cuteftp.com/store/index.asp, War FTP daemon dapat didownload di http://www.warftp.org/ dan SmartFTP dapat didownload di http://www.smartftp.com/download/.

Selain itu web browser seperti IE (Internet Explorer) atau netscape navigator juga dapat mengambil fungsi program-program FTP berbasis grafik. Hubungan ke FTP-server ini terlihat jelas pada awal alamatnya yang bertuliskan ftp://, setelah terhubung, browser langsung memperlihatkan file-file atau direktori yang terdapat diserver, atau sebelumnya kita harus memasukkan login dan password jika FTP-server tersebut menggunakan sistem pengamanan login dan password. Selanjutnya kita dapat memilih dan men-download filefile tersebut ke komputer kita. Tetapi dengan menggunakan sebuah software FTP, proses pen-download-an atau

pengiriman akan lebih gampang dan rapi karena kita dapat langsung melakukan proses-proses tersebut tepat didirektori yang kita inginkan.

Ringkasnya, penggunaan program FTP untuk transfer file-file sangat diperlukan di dunia Internet. Aktifitas transfer tersebut dapat berlangsung di berbagai jenis aktifitas, misalnya seorang webmaster atau web designer memerlukan program FTP untuk meng-upload atau mengganti file-file pendukung dari website yang dikelolanya atau seorang dosen memerlukan program FTP untuk meng-upload file-file yang diperlukan mahasiswanya di website universitasnya dan meng-download file-file yang berisikan informasi atau artikel yang diperlukan dari berbagai sumber informasi yang di-subscribe dari seluruh dunia.

Selain itu, dengan menggunakan program FTP dapat mempersingkat pengiriman file-file antar pihak-pihak terkait tanpa perlu membangun sebuah website pendukung yang mungkin interaktif yang jelas-jelas akan menambah biaya dan waktu untuk men-set-up dan me-maintenance-nya. Kesederhanaan dan ketepatan serta penggunaan software-software FTP yang graphical-based dapat mempercepat dan menghemat biaya koneksi ke internet. Tata cara penginstalan dan penggunaan software-software tersebut dapat dilihat pada websitenya masing-masing. Mudah-mudahan hal ini merupakan salah satu alternatif lain untuk mengantisipasi pengiriman dan pengambilan file-file di internet dimasa-masa biaya koneksi ke internet yang semakin tinggi dan mahal.

Daftar Pustaka :

  1. AS Pratisto (1999) Apa Sebenarnya File Tranfer Protocol, CHIP Indonesia Magazine, November 1999, pp 115.

  2. Paul Gilster (1993) The Internet Navigator, Jhon Willey & Sons, Inc, New York, USA

  3. Trezciak, J & Mackay, S E (1994) Study Skills for Academic Writing, Prentice Hall International , UK, Unit 3

  4. Willy Sudiarto Raharjo (2004), Beginilah Cara FTP Berkoneksi, PCPlus Tabloid, Volume 162/5, 10-16 Februari 2004.

  5. Imagespace, WS_FTP For Windows Connecting To Your Home Directory, http://www.imagescape.com/helpweb/ftp/homeftp.html

REKAYASA SISTEM INFORMASI

ANALSIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI

SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

Disusun Oleh :

  1. NUR RUBIYANTORO 07.0511.0080

  2. NUR AFENDI 07.0511.0081

  3. TRI SUJOKO 07.0511.0110

  4. TRI SURANTO 07.0511.0111

  5. YUDHO KUNCORO 07.0511.0122

FAKULTAS TEKNIK

TEKNIK INFORMATIKA (D3TKJ)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG

TAHUN 2 0 0 8

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Di era globalisasi dan informasi saat ini manusia dituntut untuk bekerja secara cepat dan tepat. Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut manusia memerlukan alat bantu dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Ada berbagai macam alat bantu yang dapat dipakai oleh manusia, diantaranya komputer. Dalam hal ini komputer merupakan alat bantu yang mempunyai peranan sangat besar. Komputer merupakan suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk mengolah, menyimpan, dan menampilkan kembali data-data yang telah terekam didalamnya. Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk membantu pekerjaan manusia sebagai alat pengolah data.

Keberadaan komputer di dalam suatu perusahaan ataupun lembaga pendidikan akan berdampak positif karena sangat menunjang efisiensi kinerja. Komputer merupakan sarana yang digunakan untuk membantu mencapai kinerja yang maksimal dan mempercepat penyajian informasi yang akurat bagi pihak-pihak yang berkompeten. Pengolahan dan penyajian data yang baik dapat mempercepat ketepatan pengambilan keputusan. Hal ini dapat dicapai apabila pengolahan data tersebut dilakukan dengan sistem komputerisasi.

Sistem komputerisasi di dunia pendidikan sudah mulai diterapkan, salah satunya dalam penerimaan peserta didik baru. SMP Negeri 1 Mertoyudan mulai menerapkan sistem komputerisasi dalam pelaksanaan seleksi penerimaan peserta didik baru. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan agar pihak sekolah lebih mudah dalam merekrut peserta didik baru dan mempercepat penyajian informasi kepada masyarakat (orang tua calon peserta didik baru).

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, tugas kelompok ini kami beri judul “ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU”.

  1. PERUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah dalam penerimaan peserta didik baru di SMP Negeri 1 Mertoyudan adalah sebagai berikut :

    1. Perancangan / perencanaan sistem penerimaan peserta didik baru.

    2. Pembuatan aplikasi pada sistem penerimaan peserta didik baru.

  1. TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan dari pembuatan Rekayasa Sistem Informasi ini adalah untuk menganalisis dan merancang sistem informasi pada seleksi penerimaan calon peserta didik baru.

Sedangkan manfaat dari perancangan sistem ini diantaranya sebagai berikut :

    1. Menganalisis sistem yang sedang berjalan untuk menemukan kendala yang terjadi sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

    2. Merancang suatu sistem komputerisasi di dalam sistem penerimaan peserta didik baru.

  1. BATASAN MASALAH

Di dalam membangun suatu sistem informasi, ruang lingkup pembahasan sistem seleksi penerimaan peserta didik baru dibatasi pada beberapa hal, diantaranya :

    1. Pembatasan penguna calon peserta siswa didik baru.

    2. Pembatasan pengguna administrator sebagai penyajian informasi pada masyarakat khususnya untuk calon murid / orang murid baru.

  1. METODOLOGI

Metode pengumpulan data yang digunakan sebagai bahan penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :

  1. Studi Lapangan

Untuk memperoleh data yang lebih valid di dalam studi lapangan ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan data-data yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki sistem yang ada serta melakukan interview agar dapat mengetahui berbagai permasalahan yang terjadi di dalam sistem dan digunakan untuk memperbaiki sistem yang ada sesuai dengan kebutuhan.

Dalam melakukan analisis dan perancangan sistem, sebagai tambahan bahan pertimbangan dilakukan dengan melakukan survey lapangan. Apabila ditenukan kasus atau masalah dalam sistem penerimaan peserta didik baru , maka dapat kita lakukan bagaimana caranya untuk mengatasi kasus tersebut.

  1. Studi Literatur

Studi literatur digunakan untuk menambah referensi sebagai bahan pertimbangan di dalam pengambilan keputusan maupun untuk menambah data-data yang diperlukan untuk membangun suatu sistem informasi. Referensi yang digunakan dapat berupa buku-buku yang berkaitan dengan perancangan suatu system informasi.

Tabel Langkah Kerja

No

Langkah Kerja

Waktu

Personal yang Mengerjakan

1

Observasi

2 Juli 2008

    1. N. Rubiyantoro

    2. Tri Sujoko

2

Wawancara

7 Juli 2008

  1. Tri Suranto

  2. Nur Afendi

3

Studi Pustaka

12 Juli 2008

  1. Yudho Kuncoro

  1. IDENTITAS ORGANISASI

Nama Organisasi : SMP Negeri 1 Mertoyudan

Alamat : Jl. Mayjen Bambang Sugeng Km.5,

Sumberrejo Mertoyudan, Kab. Magelang

Telp. : (0293) 325718

  1. DESKRIPSI DAN ANALISIS SISTEM

Nama Sistem : Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru

Tujuan : Memudahkan pengelolaan data calon peserta didik

baru

Dalam sistem ini yang bertanggung jawab dalam kelancaran pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah panitia PPDB yang kemudian dilaporkan kepada kepala sekolah, komite sekolah, dan instansi terkait.

        • Model dari sistem yang sekarang sedang berjalan

  • Struktur Organisasi

Diagram Contex :

Data Flow Diagram / Diagram Arus Data ( DFD )

Level l.0 :

Diagram Relasi Entitas

  • Teknologi yang sekarang dipakai dalam sistem adalah teknologi komputer menggunakan aplikasi database Microsoft Access.

  • Dengan menerapkan PIECES framework pada sistem yang sekarang berjalan terdapat beberapa hambatan, yaitu:

  1. Peserta didik belum seluruhnya memperoleh pembelajaran TIK yang berbasis IT.

  2. Peserta didik masih terbiasa melakukan input data secara manual sehingga masih mengalami kesulitan melakukan input data ke sistem komputerisasi.

  3. Pembaharuan dari input data yang dilakukan secara manual tidak dapat langsung diinput ke sistem komputerisasi.

  • Peluang dan keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan database:

      1. Data lebih mudah diproses dan diolah sesuai dengan kepentingan.

      2. Dapat memberikan hak akses pada tingkat pengguna, sehingga keamanan data lebih terjamin.

        1. ANALISIS KEBUTUHAN PENGGUNA

Sasaran pengguna dari fasilitas sistem komputerisasi adalah :

  1. Calon siswa sebagai user yang menginput data.

  2. Panitia selaku administrator yang mengolah data yang telah diinput.

  3. Kepala sekolah selaku penanggung jawab seleksi PPDB.

DAFTAR PUSTAKA

SMP N 1 Mertoyudan, 2008 : Buku Laporan Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2007/2008, Magelang

KONSEP & CARA KERJA DNS

DNS bekerja secara hirarki dan berbentuk seperti pohon (tree). Bagian atas adalah Top Level Domain(TLD) seperti COM, ORG, EDU, MIL dsb. Seperti pohon DNS mempunyai cabang-cabang yang dicari dari pangkal sampai ke ujung. Pada waktu kita mencari alamat misalnya linux.or.id pertama-tama DNS bertanya pada TLD server tentang DNS Server yang melayani domain .id misalnya dijawab ns1.id, setelah itu dia bertanya pada ns1.id tentang DNS Server yang bertanggung jawab atas .or.id misalnya ns.or.id kemudian dia bertanya pada ns.or.id tentang linux.or.id dan dijawab 64.29.24.175

Sedangkan untuk mengubah IP menjadi nama host melibatkan domain in-addr.arpa. Seperti domain lainnya domain in-addr.arpa pun bercabang-cabang. Yang penting diingat adalah alamat IP-nya ditulis dalam urutan terbalik di bawah in-addr.arpa. Misalnya untuk alamat IP 64.29.24.275 prosesnya seperti contoh linux.or.id: cari server untuk arpa, cari server untuk in-addr.arpa, cari server untuk 64.in-addr.arpa, cari server 29.64.in-addr.arpa, cari server untuk 24.29.64.in-addr.arpa. Dan cari informasi untuk 275.24.29.64.in-addr.arpa. Pembalikan urutan angkanya memang bisa membingungkan.

Apa?

l Alamat IP terdiri atas 32 bit, yang dapat ditulis secara biner, hexa ataupun desimal

l Walaupun sudah ditulis secara desimal, orang tetap sulit mengingat-nya satu-satu

l Analogi: kitapun sulit mengingat nomer telepon kenalan-kenalan yang banyak, sehingga diperlukan buku telepon

l Di dalam HP bahkan tersedia buku telepon. Dan kita tinggal pilih nama orang yang kita hubungi tanpa pernah menghapal nomer telepon orang itu

Bagaimana?

l Untuk menghubungi suatu PC ada dua cara

- Ketikkan alamat IP (202.46.49.1 8)

- Ketikkan Domain Name-nya (kuliahendradi.co.nr)‏

l DNS juga bisa digunakan untuk mencari nama host jika alamat IP diketahui

Berikut adalah cara kerja DNS:

Berikut adalah flowchartcara kerja DNS :

Open Shortest Path First (OSPF)

Teknologi link-state dikembangkan dalam ARPAnet untuk menghasilkan protokol yang terdistribusi yang jauh lebih baik daripada protokol distance-vector. Alih-alih saling bertukar jarak (distance) ke tujuan, setiap router dalam jaringan memiliki peta jaringan yang dapat diperbarui dengan cepat setelah setiap perubahan topologi. Peta ini digunakan untuk menghitung route yang lebih akurat daripada menggunakan protokol distance-vector. Perkembangan teknologi ini akhirnya menghasilkan protokol Open Shortest Path First (OSPF) yang dikembangkan oleh IETF untuk digunakan di Internet. Bahkan sekarang Internet Architecture Board (IAB) telah merekomendasikan OSPF sebagai pengganti RIP.

Prinsip link-state routing sangat sederhana. Sebagai pengganti menghitung route “terbaik” dengan cara terdistribusi, semua router mempunyai peta jaringan dan menghitung semua route yang terbaik dari peta ini. Peta jaringan tersebut disimpan dalam sebuah basis data dan setiap record dalam basis data tersebut menyatakan sebuah link dalam jaringan. Record-record tersebut dikirimkan oleh router yang terhubung langsung dengan masing-masing link.

Karena setiap router perlu memiliki peta jaringan yang menggambarkan kondisi terakhir topologi jaringan yang lengkap, setiap perubahan dalam jaringan harus diikuti oleh perubahan dalam basis data link-state yang terletak di setiap router. Perubahan status link yang dideteksi router akan mengubah basis data link-state router tersebut, kemudian router mengirimkan perubahan tersebut ke router-router lain.

Protokol yang digunakan untuk mengirimkan perubahan ini harus cepat dan dapat diandalkan. Ini dapat dicapai oleh protokol flooding. Dalam protokol flooding, pesan yang dikirim adalah perubahan dari basis data serta nomor urut pesan tersebut. Dengan hanya mengirimkan perubahan basis data, waktu yang diperlukan untuk pengiriman dan pemrosesan pesan tersebut lebih sedikit dibandingdengan mengirim seluruh isi basis data tersebut. Nomor urut pesan diperlukan untuk mengetahui apakah pesan yang diterima lebih baru daripada yang terdapat dalam basis data. Nomor urut ini berguna pada kasus link yang putus menjadi tersambung kembali.

Pada saat terdapat link putus dan jaringan menjadi terpisah, basis data kedua bagian jaringan tersebut menjadi berbeda. Ketika link yang putus tersebut hidup kembali, basis data di semua router harus disamakan. Basis data ini tidak akan kembali sama dengan mengirimkan satu pesan link-state saja. Proses penyamaan basis data pada router yang bertetangga disebut sebagai menghidupkan adjacency. Dua buah router bertetangga disebut sebagai adjacent bila basis data link-state keduanya telah sama. Dalam proses ini kedua router tersebut tidak saling bertukar basis data karena akan membutuhkan waktu yang lama.

Proses menghidupkan adjacency terdiri dari dua fasa.Fasa pertama, kedua router saling bertukar deskripsi basis data yang merupakan ringkasan dari basis data yang dimiliki setiap router. Setiap router kemudian membandingkan deskripsi basis data yang diterima dengan basis data yang dimilikinya. Pada fasa kedua, setiap router meminta tetangganya untuk mengirimkan record-record basis data yang berbeda, yaitu bila router tidak memiliki record tersebut, atau nomor urut record yang dimiliki lebih kecil daripada yang dikirimkan oleh deskripsi basis data. Setelah proses ini, router memperbarui beberapa record dan ini kemudian dikirimkan ke router-router lain melalui protokol flooding.

Protokol link-state lebih baik daripada protokol distance-vector disebabkan oleh beberapa hal: waktu yang diperlukan untuk konvergen lebih cepat, dan lebih penting lagi protokol ini tidak menghasilkan routing loop. Protokol ini mendukung penggunaan beberapa metrik sekaligus. Throughput, delay, biaya, dan keandalan adalah metrik-metrik yang umum digunakan dalam jaringan. Di samping itu protokol ini juga dapat menghasilkan banyak jalur ke sebuah tujuan. Misalkan router A memiliki dua buah jalur dengan metrik yang sama ke host B. Protokol dapat memasukkan kedua jalur tersebut ke dalam forwarding table sehingga router mampu membagi beban di antara kedua jalur tersebut.

Rancangan OSPF menggunakan protokol link-state dengan beberapa penambahan fungsi. Fungsi-fungsi yang ditambahkan antara lain mendukung jaringan multi-akses, seperti X.25 dan Ethernet, dan membagi jaringan yang besar mejadi beberapa area.

Telah dijelaskan di atas bahwa setiap router dalam protokol link-state perlu membentuk adjacency dengan router tetangganya. Pada jaringan multi-akses, tetangga setiap router dapat lebih dari satu. Dalam situasi seperti ini, setiap router dalam jaringan perlu membentuk adjacency dengan semua router yang lain, dan ini tidak efisien. OSPF mengefisienkan adjacency ini dengan memperkenalkan konsep designated router dan designated router cadangan. Semua router hanya perlu adjacent dengan designated router tersebut, sehingga hanya designated router yang adjacent dengan semua router yang lain. Designated router cadangan akan mengambil alih fungsi designated router yang gagal berfungsi.

Langkah pertama dalam jaringan multi-akses adalah memilih designated router dan cadangannya. Pemilihan ini dimasukkan ke dalam protokol Hello, protokol dalam OSPF untuk mengetahui tetangga-tetangga router dalam setiap link. Setelah pemilihan, baru kemudian router-router membentuk adjacency dengan designated router dan cadangannya. Setiap terjadi perubahan jaringan, router mengirimkan pesan menggunakan protokol flooding ke designated router, dan designated router yang mengirimkan pesan tersebut ke router-router lain dalam link.

Designated router cadangan juga mendengarkan pesan-pesan yang dikirim ke designated router. Jika designated router gagal, cadangannya kemudian menjadi designated router yang baru serta dipilih designated router cadangan yang baru. Karena designated router yang baru telah adjacent dengan router-router lain, tidak perlu dilakukan lagi proses penyamaan basis data yang membutuhkan waktu yang lama tersebut.

Dalam jaringan yang besar tentu dibutuhkan basis data yang besar pula untuk menyimpan topologi jaringan. Ini mengarah kepada kebutuhan memori router yang lebih besar serta waktu perhitungan route yang lebih lama. Untuk mengantisipasi hal ini, OSPF menggunakan konsep area dan backbone. Jaringan dibagi menjadi beberapa area yang terhubung ke backbone. Setiap area dianggap sebagai jaringan tersendiri dan router-router di dalamnya hanya perlu memiliki peta topologi jaringan dalam area tersebut. Router-router yang terletak di perbatasan antar area hanya mengirimkan ringkasan dari link-link yang terdapat dalam area dan tidak mengirimkan topologi area satu ke area lain. Dengan demikian, perhitungan route menjadi lebih sederhana.

Kesederhanaan vs. Kemampuan

Kita sudah lihat sepintas bagaimana RIP dan OSPF bekerja. Setiap protokol routing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Protokol RIP sangat sederhana dan mudah diimplementasikan tetapi dapat menimbulkan routing loop. Protokol OSPF merupakan protokol yang lebih rumit dan lebih baik daripada RIP tetapi membutuhkan memori dan waktu CPU yang besar.

Di berbagai tempat juga terdapat yang menggunakan gabungan antara routing statik, RIP, RIP-v2, dan OSPF. Hasilnya di jaringan ini menunjukkan bahwa administrasi routing statik jauh lebih memakan waktu dibanding routing dinamik. Pengamatan pada protokol routing dinamik juga menunjukkan bahwa RIP menggunakan bandwidth yang lebih besar daripada OSPF dan semakin besar jaringan, bandwidth yang digunakan RIP bertambah lebih besar pula. Jadi, jika Anda sedang mendesain jaringan TCP/IP yang besar tentu OSPF merupakan pilihan protokol routing yang tepat

Tahapan dalam membentuk adjacency

Pada saat baru pertama ON, router OSPF tidak tahu apapun tentang tetangganya, router akan mulai mengirimkan paket Hello ke seluruh interface jaringan untuk memperkenalkan dirinya. Jika router yang baru ON ini menerima paket hello yang menyimpan informasi tentang dirinya maka router ini dapat saling berhubungan dua arah dengan router pengirim hello, Default nilai hello pada broadcast multi-access adalah 10 detik dan 40 detik jika tidak ada respon akan mati, dan pada NBMA hello 30 detik dan akan mati pada 120 detik jika tidak terdapat respon

1. down : router tidak dapat hello packet dari router manapun

2. attempt : router mengirimkan hello packet tetapi belum mendapat respon, hanya ada pada tipe NT non broadcast multi-access (NBMA) dan tidak ada respon dari router lain.

3. Init : router mendapatkan hello packet dari router lain, tetapi belum terbentuk hubungan yang bidirectional (2 way)

4. 2 way : pada tahap ini hubungan antar router sudah bi-directional, untuk NT broadcast DR & BDR nya akan melanjutkan ke tahap full, router non DR & BDR akan melanjutkan Full hanya dengan DR & BDR saja

5. Exstart : terjadi pemilihan Master dan Slave, master adalah router yang memiliki router id tertinggi

6. exchange : terjadi pertukaran Database Descriptor (DBD) paket DBD ini digambarkan dari topologi DB router, proses dimulai oleh master

7. loading : router akan memeriksa DBD dari router lain dan apabila ada entry yang tidak diketahui maka router akan mengira link state request (LSR) , LSR akan dibales dengan link state state ACK dan link state reply, diakhir tahap ini semua router yang di adjacent memiliki topologi DB yang sama

8. Full : masing-masing router sudah membentuk hubungan yang adjancent.

9.

Pemilihan DR & BDR

Dalam jaringan multi akses router-router akan memilih DR (designated router) dan BDR(Backup designated router) dan berusaha adjencent dengan kedua router tersebut.

v Pemilihan terhadap tipe network multi access (broadcast & non broadcast)

v Pemilihan dilakukan berdasarkan nilai ;

v Router Priority

v Router ID

v Router priority diset per interface nilainya 0-255

v Router (config-if)# IP OSPF priority [0-255]

v Router mempunyai priority 0 tidak akan menjadi DR/BDR, statusnya DROTHER, semakin besar priority semakin besar kemungkinan dipilih menjadi BR (Priority paling tinggi) dan BDR (kedua paling tinggi / slave)

v Setting nya oleh administratornya, sesuai yang mana dulu routernya UP

v By default nilai router priority untuk semua router adalah ;

v Apabila priority router sama maka yang digunakan untuk menentukan DR/BDR adalah Router ID

v Pada tiap NT non broadcast (ex : Frame Relay) router yang menjadi DR adalah router yang memiliki link ke semua router yang lain (mutipoint) Jika terjadi DR & BDR mati maka router-router akan mengadakan pemilihan untuk menggantikan router yang mati tersebut. Proses floading adalah router dengan paket LSA harus meneruskan paket ke semua jaringan, dan memasukkan informasi LSA dalam databasenya , jika paket data yang diterima tidak baru maka akan di drop, disebut floading karena seolah-olah membanjiri jaringan dengan LSA (link state advertisement) Setiap kali BD linkstate router berubah, router kembali perlu menghitung rute terbaik dan membentuk table routing terbaru, dengan biaya terendah dan shortest path terpendek

Router (config) #router OSPF 1

Router (Config-router) # default-information originate à hanya untuk default router

Perintah redistribute static metric 100 – semua static routing akan diredistribusikan

OSPF ROUTING PROTOKOL UNTUK JARINGAN LOKAL

Kekuatan dari OSPF ada pada sistem hirarkinya yang diterapkan dalam sistem area. Penyebaran informasi routing menjadi lebih teratur dan juga mudah untuk di-troubleshooting.

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh OSPF adalah membentuk komunikasi dengan para router tetangganya. Tujuannya adalah agar informasi apa yang belum diketahui oleh router tersebut dapat diberi tahu oleh router tetangganya.

Begitu pula router tetangga tersebut juga akan menerima informasi dari router lain yang bertindak sebagai tetangganya. Sehingga pada akhirnya seluruh informasi yang ada dalam sebuah jaringan dapat diketahui oleh semua router yang ada dalam jaringan tersebut. Kejadian ini sering disebut dengan istilah Convergence.

Setelah router membentuk komunikasi dengan para tetangganya, maka proses pertukaran informasi routing berlangsung dengan menggunakan bantuan beberapa paket khusus yang bertugas membawa informasi routing tersebut. Paket-paket tersebut sering disebut dengan istilah Link State Advertisement packet (LSA packet). Selain dari hello packet, routing protokol OSPF juga sangat bergantung kepada paket jenis ini untuk dapat bekerja.

OSPF memang memiliki sistem update informasi routing yang cukup teratur dengan rapi. Teknologinya menentukan jalur terpendek dengan algoritma Shortest Path First (SPF) juga sangat hebat. Meskipun terbentang banyak jalan menuju ke sebuah lokasi, namun OSPF dapat menentukan jalan mana yang paling baik dengan sangat tepat. Sehingga komunikasi data Anda menjadi lancar dan efisien.

Namun ada satu lagi keunggulan OSPF, yaitu konsep jaringan hirarki yang membuat proses update informasinya lebih termanajemen dengan baik. Dalam menerapkan konsep hirarki ini, OSPF menggunakan pembagian jaringan berdasarkan konsep area-area. Pembagian berdasarkan area ini yang juga merupakan salah satu kelebihan OSPF.

Untuk Apa Konsep Area dalam OSPF?

OSPF dibuat dan dirancang untuk melayani jaringan lokal berskala besar. Artinya OSPF haruslah memiliki nilai skalabilitas yang tinggi, tidak mudah habis atau “mentok” karena jaringan yang semakin diperbesar. Namun nyatanya pada penerapan OSPF biasa, beberapa kejadian juga dapat membuat router OSPF kewalahan dalam menangani jaringan yang semakin membesar. Router OSPF akan mencapai titik kewalahan ketika:

  • Semakin membesarnya area jaringan yang dilayaninya akan semakin banyak informasi yang saling dipertukarkan. Semakin banyak router yang perlu dilayani untuk menjadi neighbour dan adjacence. Dan semakin banyak pula proses pertukaran informasi routing terjadi. Hal ini akan membuat router OSPF membutuhkan lebih banyak sumber memory dan processor. Jika router tersebut tidak dilengkapi dengan memory dan processor yang tinggi, maka masalah akan terjadi pada router ini.
  • Topology table akan semakin membesar dengan semakin besarnya jaringan. Topology table memang harus ada dalam OSPF karena OSPF termasuk routing protocol jenis Link State. Topology table menrupakan tabel kumpulan informasi state seluruh link yang ada dalam jaringan tersebut. Dengan semakin membesarnya jaringan, maka topology table juga semakin membengkak besarnya. Pembengkakan ini akan mengakibatkan router menjadi lama dalam menentukan sebuah jalur terbaik yang akan dimasukkan ke routing table. Dengan demikian, performa forwarding data juga menjadi lamban.
  • Topology table yang semakin membesar akan mengakibatkan routing table semakin membesar pula. Routing table merupakan kumpulan informasi rute menuju ke suatu lokasi tertentu. Namun, rute-rute yang ada di dalamnya sudah merupakan rute terbaik yang dipilih menggunakan algoritma Djikstra. Routing table yang panjang dan besar akan mengakibatkan pencarian sebuah jalan ketika ingin digunakan menjadi lambat, sehingga proses forwarding data juga semakin lambat dan menguras tenaga processor dan memory. Performa router menjadi berkurang.

Bagaimana Konsep Area Dapat Mengurangi Masalah?

Ketika sebuah jaringan semakin membesar dan membesar terus, routing protokol OSPF tidak efektif lagi jika dijalankan dengan hanya menggunakan satu area saja. Seperti telah Anda ketahui, OSPF merupakan routing protokol berjenis Link State. Maksudnya, routing protokol ini akan mengumpulkan data dari status-status setiap link yang ada dalam jaringan OSPF tersebut.

Apa jadinya jika jaringan OSPF tersebut terdiri dari ratusan bahkan ribuan link di dalamnya? Tentu proses pengumpulannya saja akan memakan waktu lama dan resource processor yang banyak. Setelah itu, proses penentuan jalur terbaik yang dilakukan OSPF juga menjadi sangat lambat.

Berdasarkan limitasi inilah konsep area dibuat dalam OSPF. Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah link-link yang dipantau dan dimonitor statusnya agar penyebaran informasinya menjadi cepat dan efisien serta tidak menjadi rakus akan tenaga processing dari perangkat router yang menjalankannya.

Bagaimana Informasi Link State Disebarkan?

Untuk menyebarkan informasi Link State ke seluruh router dalam jaringan, OSPF memiliki sebuah sistem khusus untuk itu. Sistem ini sering disebut dengan istilah Link State Advertisement (LSA). Dalam menyebarkan informasi ini, sistem LSA menggunakan paket-paket khusus yang membawa informasi berupa status-status link yang ada dalam sebuah router. Paket ini kemudian dapat tersebar ke seluruh jaringan OSPF. Semua informasi link yang ada dalam router dikumpulkan oleh proses OSPF, kemudian dibungkus dengan paket LSA ini dan kemudian dikirimkan ke seluruh jaringan OSPF.

Apa sih Paket LSA?

Seperti telah dijelaskan di atas, paket LSA di dalamnya akan berisi informasi seputar link-link yang ada dalam sebuah router dan statusnya masing-masing. Paket LSA ini kemudian disebarkan ke router-router lain yang menjadi neighbour dari router tersebut. Setelah informasi sampai ke router lain, maka router tersebut juga akan menyebarkan LSA miliknya ke router pengirim dan ke router lain.

Pertukaran paket LSA ini tidak terjadi hanya pada saat awal terbentuknya sebuah jaringan OSPF, melainkan terus menerus jika ada perubahan link status dalam sebuah jaringan OSPF. Namun, LSA yang disebarkan kali pertama tentu berbeda dengan yang disebarkan berikutnya. Karena LSA yang pertama merupakan informasi yang terlengkap seputar status dari link-link dalam jaringan, sedangkan LSA berikutnya hanyalah merupakan update dari perubahan status yang terjadi.

Paket-paket LSA juga dibagi menjadi beberapa jenis. Pembagian ini dibuat berdasarkan informasi yang terkandung di dalamnya dan untuk siapa LSA ini ditujukan. Untuk membedakan jenisjenisnya ini, OSPF membagi paket LSA nya menjadi tujuh tipe. Masing-masing tipe memiliki kegunaannya masing-masing dalam membawa informasi Link State. Anda dapat melihat kegunaan masing-masing paket pada tabel “Tipe-tipe LSA packet”.

Tipe-tipe Router OSPF

Seperti telah Anda ketahui, OSPF menggunakan konsep area dalam menjamin agar penyebaran informasi tetap teratur baik. Dengan adanya sistem area-area ini, OSPF membedakan lagi tipe-tipe router yang berada di dalam jaringannya. Tipe-tipe router ini dikategorikan berdasarkan letak dan perannya dalam jaringan OSPF yang terdiri dari lebih dari satu area. Di mana letak sebuah router dalam jaringan OSPF juga sangat berpengaruh terhadap fungsinya. Jadi dengan demikian, selain menunjukkan lokasi di mana router tersebut berada, nama-nama tipe router ini juga akan menunjukkan fungsinya. Berikut ini adalah beberapa tipe router OSPF berdasarkan letaknya dan juga sekaligus fungsinya:

  • Internal Router

Router yang digolongkan sebagai internal router adalah router-router yang berada dalam satu area yang sama. Router-router dalam area yang sama akan menanggap router lain yang ada dalam area tersebut adalah internal router. Internal router tidak memiliki koneksi-koneksi dengan area lain, sehingga fungsinya hanya memberikan dan menerima informasi dari dan ke dalam area tersebut. Tugas internal router adalah me-maintain database topologi dan routing table yang akurat untuk setiap subnet yang ada dalam areanya. Router jenis ini melakukan flooding LSA informasi yang dimilikinya ini hanya kepada router lain yang dianggapnya sebagai internal router.

  • Backbone Router

Salah satu peraturan yang diterapkan dalam routing protokol OSPF adalah setiap area yang ada dalam jaringan OSPF harus terkoneksi dengan sebuah area yang dianggap sebagai backbone area. Backbone area biasanya ditandai dengan penomoran 0.0.0.0 atau sering disebut dengan istilah Area 0. Router-router yang sepenuhnya berada di dalam Area 0 ini dinamai dengan istilah backbone router. Backbone router memiliki semua informasi topologi dan routing yang ada dalam jaringan OSPF tersebut.

  • Area Border Router (ABR)

Sesuai dengan istilah yang ada di dalam namanya “Border”, router yang tergolong dalam jenis ini adalah router yang bertindak sebagai penghubung atau perbatasan. Yang dihubungkan oleh router jenis ini adalah area-area yang ada dalam jaringan OSPF. Namun karena adanya konsep backbone area dalam OSPF, maka tugas ABR hanyalah melakukan penyatuan antara Area 0 dengan area-area lainnya. Jadi di dalam sebuah router ABR terdapat koneksi ke dua area berbeda, satu koneksi ke area 0 dan satu lagi ke area lain. Router ABR menyimpan dan menjaga informasi setiap area yang terkoneksi dengannya. Tugasnya juga adalah menyebarkan informasi tersebut ke masing-masing areanya. Namun, penyebaran informasi ini dilakukan dengan menggunakan LSA khusus yang isinya adalah summarization dari setiap segment IP yang ada dalam jaringan tersebut. Dengan adanya summary update ini, maka proses pertukaran informasi routing ini tidak terlalu memakan banyak resource processing dari router dan juga tidak memakan banyak bandwidth hanya untuk update ini.

  • Autonomous System Boundary Router (ASBR)

Sekelompok router yang membentuk jaringan yang masih berada dalam satu hak administrasi, satu kepemilikan, satu kepentingan, dan dikonfigurasi menggunakan policy yang sama, dalam dunia jaringan komunikasi data sering disebut dengan istilah Autonomous System (AS). Biasanya dalam satu AS, router-router di dalamnya dapat bebas berkomunikasi dan memberikan informasi. Umumnya, routing protocol yang digunakan untuk bertukar informasi routing adalah sama pada semua router di dalamnya. Jika menggunakan OSPF, maka semuanya tentu juga menggunakan OSPF.

Namun, ada kasus-kasus di mana sebuah segmen jaringan tidak memungkinkan untuk menggunakan OSPF sebagai routing protokolnya. Misalkan kemampuan router yang tidak memadai, atau kekurangan sumber daya manusia yang paham akan OSPF, dan banyak lagi. Oleh sebab itu, untuk segmen ini digunakanlah routing protocol IGP (Interior Gateway Protocol) lain seperti misalnya RIP. Karena menggunakan routing protocol lain, maka oleh jaringan OSPF segmen jaringan ini dianggap sebagai AS lain.

Untuk melayani kepentingan ini, OSPF sudah menyiapkan satu tipe router yang memiliki kemampuan ini. OSPF mengategorikan router yang menjalankan dua routing protokol di dalamnya, yaitu OSPF dengan routing protokol IGP lainnya seperti misalnya RIP, IGRP, EIGRP, dan IS-IS, kemudian keduanya dapat saling bertukar informasi routing, disebut sebagai Autonomous System Border Router (ASBR).

Router ASBR dapat diletakkan di mana saja dalam jaringan, namun yang pasti router tersebut haruslah menjadi anggota dari Area 0-nya OSPF. Hal ini dikarenakan data yang meninggalkan jaringan OSPF juga dianggap sebagai meninggalkan sebuah area. Karena adanya peraturan OSPF yang mengharuskan setiap area terkoneksi ke backbone area, maka ASBR harus diletakkan di dalam backbone area.

Ada Berapa Jenis Area dalam OSPF?

Setelah membagi-bagi jaringan menjadi bersistem area dan membagi router-router di dalamnya menjadi beberapa jenis berdasarkan posisinya dalam sebuah area, OSPF masih membagi lagi jenis-jenis area yang ada di dalamnya. Jenis-jenis area OSPF ini menunjukkan di mana area tersebut berada dan bagaimana karakteristik area tersebut dalam jaringan. Berikut ini adalah jenis-jenis area dalam OSPF:

  • Backbone Area

Backbone area adalah area tempat bertemunya seluruh area-area lain yang ada dalam jaringan OSPF. Area ini sering ditandai dengan angka 0 atau disebut Area 0. Area ini dapat dilewati oleh semua tipe LSA kecuali LSA tipe 7 yang sudah pasti akan ditransfer menjadi LSA tipe 5 oleh ABR.

  • Standar Area

Area jenis ini merupakan area-area lain selain area 0 dan tanpa disertai dengan konfigurasi apapun. Maksudnya area ini tidak dimodifikasi macam-macam. Semua router yang ada dalam area ini akan mengetahui informasi Link State yang sama karena mereka semua akan saling membentuk adjacent dan saling bertukar informasi secara langsung. Dengan demikian, semua router yang ada dalam area ini akan memiliki topology database yang sama, namun routing table-nya mungkin saja berbeda.

  • Stub Area

Stub dalam arti harafiahnya adalah ujung atau sisi paling akhir. Istilah ini memang digunakan dalam jaringan OSPF untuk menjuluki sebuah area atau lebih yang letaknya berada paling ujung dan tidak ada cabang-cabangnya lagi. Stub area merupakan area tanpa jalan lain lagi untuk dapat menuju ke jaringan dengan segmen lain. Area jenis ini memiliki karakteristik tidak menerima LSA tipe 4 dan 5. Artinya adalah area jenis ini tidak menerima paket LSA yang berasal dari area lain yang dihantarkan oleh router ABR dan tidak menerima paket LSA yang berasal dari routing protokol lain yang keluar dari router ASBR (LSA tipe 4 dan 5). Jadi dengan kata lain, router ini hanya menerima informasi dari router-router lain yang berada dalam satu area, tidak ada informasi routing baru di router. Namun, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana area jenis ini dapat berkomunikasi dengan dunia luar kalau tidak ada informasi routing yang dapat diterimanya dari dunia luar. Jawabannya adalah dengan menggunakan default route yang akan bertugas menerima dan meneruskan semua informasi yang ingin keluar dari area tersebut. Dengan default route, maka seluruh traffic tidak akan dibuang ke mana-mana kecuali ke segmen jaringan di mana IP default route tersebut berada.

  • Totally Stub Area

Mendengar namanya saja, mungkin Anda sudah bisa menangkap artinya bahwa area jenis ini adalah stub area yang lebih diperketat lagi perbatasannya. Totally stub area tidak akan pernah menerima informasi routing apapun dari jaringan di luar jaringan mereka. Area ini akan memblokir LSA tipe 3, 4, dan 5 sehingga tidak ada informasi yang dapat masuk ke area ini. Area jenis ini juga sama dengan stub area, yaitu mengandalkan default route untuk dapat menjangkau dunia luar.

  • Not So Stubby Area (NSSA)

Stub tetapi tidak terlalu stub, itu adalah arti harafiahnya dari area jenis ini. Maksudnya adalah sebuah stub area yang masih memiliki kemampuan spesial, tidak seperti stub area biasa. Kemampuan spesial ini adalah router ini masih tetap mendapatkan informasi routing namun tidak semuanya. Informasi routing yang didapat oleh area jenis ini adalah hanya external route yang diterimanya bukan dari backbone area. Maksudnya adalah router ini masih dapat menerima informasi yang berasal dari segmen jaringan lain di bawahnya yang tidak terkoneksi ke backbone area. Misalnya Anda memiliki sebuah area yang terdiri dari tiga buah router. Salah satu router terkoneksi dengan backbone area dan koneksinya hanya berjumlah satu buah saja. Area ini sudah dapat disebut sebagai stub area. Namun nyatanya, area ini memiliki satu segmen jaringan lain yang menjalankan routing protokol RIP misalnya. Jika Anda masih mengonfigurasi area ini sebagai Stub area, maka area ini tidak menerima informasi routing yang berasal dari jaringan RIP. Namun konfigurasilah dengan NSSA, maka area ini bisa mengenali segmen jaringan yang dilayani RIP.

Performa Hebat Didukung Perangkat Hebat

Jaringan Anda boleh bertambah besar, berapapun subnet IP di dalamnya, berapapun klien yang harus dilayani, dan berapapun server di belakangnya boleh-boleh saja bertambah. Percayakan saja pada routing protokol OSPF yang mengatur semua penyebaran informasi
routing-nya. Namun ada satu yang perlu Anda perhatikan juga, ketika jaringan membesar dan routing protokol OSPF sudah terpecah-pecah menjadi beberapa area, perangkat router Anda juga harus mendukung kebutuhan tersebut. Perangkat router yang menjalankan routing protokol seperti OSPF, apalagi yang sudah terbagi-bagi menjadi beberapa area, sangat membutuhkan kekuatan processing dan memory.

Jika Anda menerapkan OSPF pada router yang salah, maka kinerjanya tidak akan efektif dan malah membuat performa jaringan menjadi jelek. Untuk itu, sebelum mengonfigurasi dan menerapkannya dalam jaringan Anda, telitilah lebih dahulu apakah router Anda memiliki processor dan memory yang cukup kuat untuk itu. Apakah operating system router Anda memiliki fitur-fitur OSPF yang ada butuhkan, dan banyak lagi hal yang harus diteliti. Jangan sampai setelah berjalan baru diselidiki kebutuhan dan kelemahannya. Selamat belajar!

Sumber :

http://en.wikipedia.org/wiki/Open_Shortest_Path_First

http://www.geocities.com/Heartland/4394/work/ospf.html

http://ilmukomputer.com/searchresult.php?domains=ilmukomputer.com&q=ospf&sitesearch

http://www.rhyshaden.com/ospf.htm

Di tempat magang tepatnya di SMP n 1 Gemawang Jl. Muncar gemawang 56283. Terdapat 1 ruang lab komputer yang luasnya 7 x 7 meter yang terdiri dari 16 komputer, masing-masing komputer pentium III intel celeron. Untuk membuat jaringan LAN dibutuhkan LAN Card karena belum onboard. Walaupun belum terpasang jaringan internet tetapi sudah bisa digunakan untuk mengirim dan menerima data dalam artian sudah terseting LAN. Disini terdapat 2 buah HUB yang masing-masing HUB terdiri dari 8 port  tetapi tidak digunakan semua hanya sebagian. Walaupun demikian siswa dapat chatting dari PC ke PC dengan menggunakan mIRC dalam satu ruang atau local.